Senin, 09 Januari 2012

ISOLASI SOSIAL


ISOLASI SOSIAL



A.LATAR BELAKANG

Manusia adalah mahluk sosial. Untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan harus membina hubungan interpersonal yang positif. Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan antara sementara identitas pribadi tetap di pertahankan. Jika sebaliknya maka patut dicurigai adanya gangguan kepribadian dan biasanya terjadi pada masa remaja dan dewasa. Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, yang memperlihatkan gejala yang berbeda, dan muncul oleh berbagai penyebab. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi muncul gejala yang berbeda. Banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan hal yang berbeda sama halnya dengan masalah kejiwaan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu gangguan kepribadian atau isolasi sosial atau menarik diri. Dalam gangguan ini hubungan saling percaya antara perawat dengan klien merupakan dasar utama dalam melakukan proses keperawatan dan penyembuhan dengan klien gangguan jiwa. Hal ini penting karena dengan hubungan saling percaya dapat membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya. Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998). Oleh karena itu,masalah dengan gangguan jiwa seperti ini yang paling dibutuhkan adalah saling percaya dan ada beberapa latar belakang bagaimana bisa terjadinya gangguan jiwa seperti ini yang akan dibahas dalam makalah ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL atau MENARIK DIRI.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum 
adalahMenjelaskan pada mahasiwa apa itu gangguan isolasi sosial atau menarik diri. 

2. Tujuan Khusus 
- Menjelaskan pengertian isolasi sosial 
- Menjelaskan faktor predisposisi terjadinya gangguan isolasi sosial 
- Menjelaskan tanda dan gejala ganguan isolasi sosial 
- Asuhan keperawatan pada pasien gangguan isolasi social 



A. PENGERTIAN

Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito, 1998). Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998). Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik diri, kurangnya kontak mata. Ketidak sesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna. Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep. Psikiatri, 1998; hal 252). Isolasi sosial menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya pada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinteraksi dimasa lampau, perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut (Townsend, M.C,1998:152). Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S,J (1998 : 345) Isolasi sosial disebabkan oleh gangguan konsep diri rendah. Menarik diri adalah keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan dan menghindari interaksi dengan orang lain secara langsung yang dapat bersifat sementara atau menetap. Kerusakan Interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif. Kerusakan Interaksi Sosial memiliki karakteristik,yaitu :Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidaknyamanan dalam situasi-situasi sosial. Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan rasa memiliki, perhatian, minat, atau membagi cerita. Tampak menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil. Disfungsi interaksi dengan rekan sebaya, keluarga atau orang lain. Penggunaan proyeksi yang berlebihan tidak menerima tanggung jawab atas perilakunya sendiri. Manipulasi verbal. Ketidakmampuan menunda kepuasan (Mary C. Townsend, Diagnosa Keperawatan Psikiatri, 1998; hal 226).

B. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI

1. Faktor predisposisi 
terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan. 
2. Faktor presipitasi 
Dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan. 

C. TANDA DAN GEJALA 

• Data Subjektif : Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata-kata “tidak “, “iya”, “tidak tahu”. 
 Data Objektif : Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan : o Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul o Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan. o Komunikasi kurang / tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat. o Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk. o Berdiam diri di kamar / tempat terpisah. Klien kurang mobilitasnya. o Menolak berhubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap. o Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan. o Posisi janin pada saat tidur. 

D. KARAKTERISTIK

• Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan
• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis. 
• Kemunduran secara fisik
• Tidur berlebihan. 
• Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama. 
• Banyak tidur siang. 
• Kurang bergairah. 
• Tidak memperdulikan lingkungan. 
• Kegiatan menurun. 
• Immobilisasai. 
• Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang). 
• Keinginan seksual menurun. 

E. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN 

• Perubahan status mental 
• Ketidakmampuan terlibat dalam hubungan personal 
• Tidak menerima nilai sosial • Tidak adekuatnya sumber pribadi 
• Kurang minat

F. UNTUK MENEGAKKAN DIAGNOSA INI PERLU DAPATKAN DATA UTAMA

• Menarik diri 
• Menghindari orang lain 
• Tidak komunikatif 
• Tidak ada kontak mata 
• Autistik 
• Sedik, afek tumpul 
• Perilaku bermusuhan 
• Perasaan ditolak/kesepian 
G. PROSES KEPERAWATAN 

1. Pengkajian Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor, suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian, tulis tempat klien dirawat dan tanggal dirawat isi pengkajian meliputi : 
 Identitas Klien 
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tangggal MRS, informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien 
 Keluhan Utama 
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain, tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen 
 Faktorpredisposisi 
kehilangan, perpisahan, penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial. Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan dicerai suami, putus sekolah, PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi (korban perkosaan, tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama. 
 Aspek fisik / biologis 
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien. 
 Aspek Psikososial : 
a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi 
b. Konsep diri o Citra tubuh Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatip tentang tubuh.Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang, mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan. o Identitas diri Ketidak pastian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan . o Peran Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses menua, putus sekolah, PHK. o Ideal diri Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi. o Harga diri Perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai diri, dan kurang percaya diri. 
c. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosial dengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat. Seperti : o Keyakinan klien terhadap Tuhan dan kegiatan untuk ibadah (spiritual o Status Mental Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata, kurang dapat memulai pembicaraan, klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan dengan orang lain, Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup. 
d. Mekanisme Koping Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri) 
 Aspek Medik 
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas. 

2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen, 1995) 

1) Resiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi pendangaran 
2) perubahan sensori perseptual : menarik diri yang berhubungan dengan menarik diri 
3) kerusakan interaksi sosial : halusinasi pendengaran yang berhubungan dengan menarik diri. 
4) Sindrom defisit perawatan diri yang berhubungan dengan intolerin aktivitas 5) Ketegangan peran pemberi perawatan yang berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat pasien di rumah 
6) Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah 
7) Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif. 

3. Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut : 

1) Isolasi sosial : menarik diri 
2) Gangguan konsep diri: harga diri rendah 
3) Resiko perubahan sensori persepsi 
4) Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain 5) Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal. 
6) Intoleransi aktifitas. 
7) Kekerasan resiko tinggi. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar